Minggu, 13 Desember 2015

My Bikepacking

Hello fellas, postingan kali ini menyambung dengan postingan beberapa waktu yang lalu ya (Transportation Along The Road). Soalnya banyak yang nanya nih kayak, "Rika beneran kalau jalan-jalan sukanya naik motor?", "Rika serius Jogja-Purwodadi naik motor?", "Rika motornya apa?", "Rika biasanya bensin habis berapa?". Haha iya kalau traveling mengunjungi tempat-tempat selama bisa dijangkau dengan motor aku selalu naik motor alias bikepacking. Banyak teman-teman di sekitarku yang sering touring mengendarai motor, jadi bikepacking bukan hal baru buat aku. Selain mudah dan murah kita jadi bisa blusukan ke tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau mobil atau transportasi publik.

Aktivitas bikepacking sangat seru dan asik, kita mengeksplorasi alam dan kearifan lokal ditemani sahabat karib, motor kita sendiri. Tempat-tempat yang indah dan masih perawan, masih belum banyak terjamah moda transportasi publik, jadi bikepacking merupakan solusi untuk menuju ke tempat tersebut. Selain itu menyenangkan kalau bikepacking adalah tidak terpaut pada jadwal, kita bisa menetukan kapan akan berangkat, kapan akan istirahat, dan kapan akan pulang. Walaupun sangat mudah dan sederhana dengan syarat punya motor, tapi jangan lupa lengkapi surat-suratnya yah seperti SIM C dan STNK. Tapi kalau gak punya motor bisa juga kok nebeng sama temen ntar kamu yang bagian beli bensin sebagai tanda terimakasih gitu.

Sebelum berangkat pastikan motor dalam keadaan prima, bisa diservis dulu ke bengkel, dicek olinya, cek bannya, cek rem, lampu, bensin, pokoknya harus make sure semuanya aman. Haha padahal aku tuh awam banget kalau masalah motor, jadi secara berkala pasti aku servis ke bengkel resmi untuk memastikan semuanya ok. Motorku adalah Yamaha Mio J keluaran tahun 2013, sudah 2 tahunan ini dia selalu menemani kemanapun aku pergi. Alasan kenapa aku memilih Mio J adalah, gak pernah rewel atau macet walau diajak keluar kota, bensinnya irit banget biasanya Jogja-Solo Baru cuma habis bensin 20 ribu rupiah, lewat jalan yang meliuk-liuk kayak ke Dlingo Bantul, Gunung Kidul atau ke Kulon Progo dia ayo aja.


Haha duh aku udah kayak SPG motor aja ya, tapi yang emang nyaman banget sih sama si Mio J ini walaupun penampilannya cewek banget tapi dia tangguh. Pesan buat kalian yang tertarik buat bikepacking jangan lupa make sure kendaraan aman, pelajari rute yang akan ditempuh, patuhi peraturan lalu lintas, hormati orang-orang yang ada di daerah tersebut, jangan ugal-ugalan, cintailah lingkungan dan cintailah motor yang selalu membawa kita ke tempat-tempat istimewa.

Salam

Minggu, 06 Desember 2015

Strawberry Bandung di Tuban

Good Monday morning, yes its really good, literally. Alhamdulillah mood Senin ini lagi baik jadi semangat buat berangkat kerja. Ya kaaan sebahagia-bahagianya traveling tetep kita harus bekerja buat menabung bekal traveling selanjutnya. Biar semangat berangkat kerja after traveling yang biasanya malah bikin males ngantor, pengennya jalan-jalan terus sedangkan dompet minta untuk diisi ulang, kalau tips dari aku sih tidur cukup, persiapkan materi-materi pekerjaan, dan jangan lupa untuk makan-makanan sehat terutama buah biar mood jadi bagus.

Ngomong-ngomong tentang buah, mari kita flashback sejenak ke kehidupan masa kelam dulu, haha. Okay, dulu aku gak suka makan sayur dan juga buah, GAK SUKA, percaya capslock, underline, bold, dan italic itu memang diperlukan banget. Gak tau ya dulu emang aku lebih suka makan nasi, daging-dagingan terutama yang digoreng, and coffee addicted also. Seiring berjalannya waktu, dan seiring sering makan bareng temen gue yang pasti udah pada kenal, Arul, dia suka banget makan sayur dan buah, akhirnya pelan-pelan aku mulai makan dan mulai suka, ya gimana lagi daripada berantem cuma masalah mau makan di mana akhirnya aku yang mengalah.

Walaupun udah doyan makan sayur dan buah bukan berarti langsung suka banget gitu enggak juga sih, masih tetep pilih-pilih. Sebelumnya aku pernah posting bahwa aku suka semangka, selain buah semangka aku juga suka buah strawberry. Sedikit kisah lucu waktu aku nganterin ibuku ziarah ke makam Sunan Bonang di Tuban Jawa Timur. Di pasar dekat makam ada mas-mas yang jualan strawberry seger-seger banget, tertarik nih aku buat beli, kata masnya itu strawberry Bandung. Lah ini kan aku lagi di Tuban bukan di Bandung, aya-aya wae masnya. Tapi iya sih waktu nyampe Jogja aku cobain, ternyata bener strawberry Bandung tapi ya gitu, tetep masih enak metik sendiri (halan apasih aku ini maunya).

 
Selain rasanya yang manis-manis asam menyegarkan gitu strawberry ternyata punya manfaat yang luar biasa. Strawberry kaya akan mineral, vitamin, dan antioksidan, yang semuanya mudah diserap oleh tubuh. Terutama kandungan vitamin C dan seng dalam buah strawberry sangat tinggi, mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Jadi bisa buat bekal traveling juga ya teman-teman biar kita gak gampang capek. Nah sekian dulu ulasan singkatnya, pesan aku jangan benci sayur dan buah ya karena manfaatnya banyak untuk kesehatan kita. Buat yang belom suka makan sayur, bisa dimulai dengan makan buah-buah yang manis dulu, baru nanti pelan-pelan mencoba makanan organik lainnya.

Salam sehat

Selasa, 01 Desember 2015

Pawai Pembangunan DIY 2015

Hei hei hei, apa kabar semua? Haha akhirnya setelah earl monthly syndrome alias nglembur awal bulan yang kerjaannya segambreng, mulai dari pembuatan laporan bulanan sampe invoicing sudah tuntas (anggep aja sudah ya, huhu). Nah sekarang saatnya untuk berbagi cerita nih buat teman-teman semua, ng... aku lagi pengen bahas tentan acara-acara yang ada di Jogja ya, semoga kalian gak pernah bosan buat membacanya. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya tanggal 22 Agustus 2015 di pusat kota Yogyakarta diadakan Pawai Pembangunan DIY 2015 yang merupakan puncak rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 70.

Awal mulanya sih aku gak tahu kalau ada acara pawai pada saat itu, cuman nih, temenku yang hitz banget yang kerjaannya selalu mengupdate informasi kekinian, yang tak lain dan tak bukan adalah Kurniawan Bakhrul Saputra alias Arul itu tiba-tiba saja mengajak untuk melihat pawai, dan tahukah kalian dia ngasih tahunya jam berapa? Jam 2 siang, padahal acara pawainya sendiri dimulai pada jam 3 sore, bagi yang belum tahu, sekedar informasi saja kalau rumahku itu di daerah Sleman jadi paling enggak menempuh waktu setengah jam buat ke pusat kota, dan karena itu weekend dan aku gak kemana-mana (gak ada yang ngajak, hiks) jadi dari pagi aku emang belum mandi (eh), nah kebayang kan aku buru-burunya gimana haha.

Seperti acara-acara pawai sebelumnya, saat acara berlangsung pasti sejumlah ruas menuju Jl. Malioboro akan ditutup. Jadi kita parkir di Stasiun Tugu, berjalan kaki sepanjang Jl. Malioboro untuk menyaksikan pawai tersebut. Sekitar ada 4.200 orang peserta yang terbagi dalam 52 kelompok mengikuti pawai ini, membawa nama dari daerah atau instansinya masing-masing. Dibagi menjadi 3 kontingen, seperti biasa untuk kontingen pertama pasti diisi oleh pasukan bergodo dan marching band. Kloter kedua diisi atranski seni budaya yang diikuti oleh seniman-seniman dari masing-masing kabupaten yang ada di Yogyakarta. Nah dan yang paling menarik adalah kontingen ketiga yang dimeriahkan oleh kendaraan hias dan kuno.

Di kontingen ketiga ada kelompok dari PT. Kereta Api Indonesia, Kebun Binatang Gembira Loka membawa serta beberapa binatangnya, persatuan sepeda onthel Yogyakarta (ada Mas Desi yang jualan slondhok, membawa serta kerombong slondhoknya), mobil-mobil kuno, dan yang bikin aku tertawa geli ada kelompok anak-anak kecil yang naik sepatu roda, nah mereka itu gak bisa ngerem, malah jatuh saling tindih satu sama lain haha, cool kids. Gimana seru kan? Pokoknya kalau ngomongin Jogja gak akan jauh-jauh dari budaya yang akan tetap lestari dan orang-orang kreatif di dalamnya.

Salam

Jumat, 20 November 2015

Agenda Tahunan FKY Yogyakarta

Yellow...!! Masih membahas tentang kebudayaan di kota Yogyakarta, kalau berbicara tentang kota kelahiranku ini, tidak akan lepas dari yang namanya kesenian. Nah di Jogja ada beberapa kesenian tahunan, mulai dari Kirab, Ngayogjazz, dan masih banyak lagi, yang paling banyak didatangi anak muda adalah FKY kepanjangan dari Festival Kesenian Yogyakarta. Berhubung aku juga anak muda kekinian (halah) jadi setiap tahunnya pasti aku wajib datang ke hajatan kota Yogyakarta yang satu ini. Bahkan dulu waktu aku masih duduk di bangku Sekolah Menegah Atas, kami dipulangkan lebih awal dan diwajibkan mengunjungi FKY kemudian keesokan harinya harus membuat laporan tentang kunjungan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, dari tahun ke tahun FKY mulai banyak perubahan, lebih menarik setiap tahunnya. Tahun ini dengan mengusung tema Edan-edanan FKY dikemas dengan sangat menarik lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya dan mampu meningkatkan animo masyarakat lebih banyak lagi. Diawali dengan acara Pawai/Kirab Kesenian yang diadakan tanggal 19 Agustus 2015 lalu pukul 15.00 WIB di ruas Jl. Kaliurang. Dilanjutkan dengan upacara pembukaan FKY ke 27 di Taman Kuliner Condongcatur Depok Sleman pada pukul 17.00 WIB. Berbagai acara seperti Pasar Seni, Panggung Pasar Seni, Workshop Seni Kreatif dan Kerajinan Tangan, Lokakarya, Panggung Senyap, Pembacaan Prosa, Teater, Lomba Busana Koran, Pameran Para Perupa Muda, Bisokop, Diskusi Seni dan Budaya, Jogjakarta Video Mapping Project, dan Panggung Edan-edanan telah dijadwalkan memeriahkan FKY ke 27.

Selain tata acaranya dan pasar seni, yang menarik lagi adalah dekorasi panggung dan stand FKYnya sendiri. Selalu dibuat menarik memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi dan disulap menjadi aneka kerajinan bernilai seni yang apik menghias menambah keindahan perhelatan FKY. Tahun ini aku suka dengan dekorasi yang ada di sisi utara menampilkan beberapa topeng berjuntai. Stand-standnya juga tambah menarik karena dimeriahkan oleh seniman-seniman muda yang memamerkan dan menjual karya seni kontemporer mereka.


Mungkin agak terlambat ya aku nulis tentang FKY ini hehe maaf sibuk banget akunya (halah ngeles). Tapi harapanku semoga FKY tetap lestari dan bisa tetap diselenggarakan setiap tahunnya karena selain untuk ajang pameran dan karya seni kan bisa untuk menarik turis juga agar belajar tentang kebudayaan, seni, dan kuliner yang ada di Yogyakarta. Sukses terus buat FKY dan seniman-seniwati Yogyakarta, tetaplah berkarya melestarikan budaya dengan caranya masing-masing.

Salam


Minggu, 15 November 2015

Karnaval Jaban Kampung Kreatif

Hellow, start the weekday yeah its Monday. Masih ingin membicarakan tentang kampungku ya, kampung tempat aku dilahirkan dan dibesarkan yang terkadang harus aku tinggalkan karena tugas negara. Ada yang unik dalam perayaan Tujuh Belas Agustus tahun ini di kampungku, yaitu diadakannya Karnaval yang bahkan langsung diliput oleh reporter TVRI Yogyakarta. Seingat aku, semenjak aku lahir sampai segede ini, ini baru pertama kalinya kampungku mengadakan Karnaval. Biasanya hanya diadakan lomba untuk berbagai kategori, kemudian disusul dengan malam tirakatan dan pentas seni, sekaligus pembagian hadiah lomba dan pemutaran film dokumenter.

Disambut antusias oleh berbagai kalangan atas ide Karnaval ini, seluruh masyarakat berlomba-lomba mengenakan busana adiguna masterpiece mereka sesuai dengan tema-tema yang sudah diusung masing-masing kelompok. Dimulai dari busana Gedrug yang dibawakan oleh pemuda-pemuda kampung Jaban, kemudian aneka busana dari berbagai daerah yang diperankan oleh bapak-bapak, ada juga yang berpakaian dengan peran mereka dalam pentas seni Sronthol. Nah untuk ibu-ibu mayoritas mereka mengenakan pakaian kebaya kuno, berjarit, menggendong tenggok, dan mengenakan caping. Anak-anak kecil juga tidak mau ketinggalan, mereka mengenakan kostum tari, kostum jathilan, membawa serta gamelannya.

Nah buat yang pemuda nih, khususnya aku juga ya, kan masih muda haha, kami mengusung tema pelajar dan profesi. Sesuai dengan karakter dan peran kami dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebagai pelajar dan juga pekerja. Beberapa mengenakan pakaian seragam sekolah lama, ada yang dibela-belain pinjem juga, ada yang berbusana dokter, suster, guru, fotografer. Dan aku cukup bahagia dengan diriku sendiri menjadi seorang accounting, ya walaupun pada akhirnya setelah aku muter-muter di depan kaca malah kelihatan kayak sales obat sih wkwkwkw. Kesalahan aku pada waktu itu adalah, aku mengenakan sepatu high heels sehingga kaki lecet semuanya.

 
Setelah selesei Karnaval mengelilingi kampung-kampung disekitar Jaban, kami berkumpul kembali di Lapangan SD Dayuharjo untuk melaksanakan Upacara Penurunan Bendera yang dipimpin oleh Bapak Camat Ngaglik. Dalam pidato Beliau itulah akhirnya kampung kami diresmikan menjadi Jaban Kampung Kreatif, whoaaa tepuk tangan donk. Itu adalah awal mulanya, nah mulai saat itulah kami, para pemuda dan pemudi ditantang untuk selalu memberikan ide-ide kreatif untuk kemajuan Jaban. Sangat menyenangkan bukan tinggal di desa?

Kamis, 05 November 2015

Asiknya Budaya "Nyinom" di Kampungku

Yowww yowww yowww, mari sejenak aku perkenalkan pada budaya yang masih turun temurun dilaksanakan di kampungku. Budaya tentang indahnya gotong-royong membantu orang yang sedang punya "gawe" dengan istilah "mantu" atau menikahkan anak mereka. Bila diantara teman-teman sekalian ada yang pernah datang ke resepsi pernikahan di kampung, pasti ada pemuda-pemudi yang wira-wiri membawa makanan, minuman, menata kursi dan lain sebagainya, nah mereka itulah yang disebut sinoman, dan kegiatannya disebut nyinom.

Dulu aku pikir nyinom itu berasal dari bahasa Jawa, dari kata sinoman yang artinya pemuda atau muda, tapi ternyata eh ternyata eh ternyata berdasarkan salah satu sumber dari mbah google nyinom itu bersalah dari bahasa Perancis yang artinya melayani (what?). Jadi kegiatan nyinom adalah pemuda-pemudi organisasi kampung yang membantu pelaksanaan hajatan dengan cara melayani tamu undangan yang datang, berupa mengantarkan makanan, minuman, maupun mempersiapkan tempat, mulai dari persiapan, hari H, sampai bersih-bersih setelah hari H (mantap!). Tidak hanya itu saja terkadang ada beberapa yang ikut menemani prosesi acara boyongan juga.

Nah nyinom dimulai dengan acara rapat terlebih dahulu, di sana akan dibahas kapan jadwal nyinom tiap anggota, kapan jadwal mengambil perkakas yang diperlukan, akan dijelaskan job description (halah) yang harus dilakukan dan siapa saja yang ditunjuk melaksanakan tugas tersebut semua dibahas di rapat. Akan ditunjuk (biasanya pemuda) beberapa orang untuk mengantarkan undangan pernikahan, disebut ulem-ulem atau uleman. Untuk ulem-ulem sendiri ada tata caranya, harus sopan dalam menyampaikan undangan, berpakaian rapi, pastikan yang bersangkutan yang menerima undangan.

Sebelum hajatan dimulai pemuda dan pemudi yang sudah berseragam rapi berkumpul di dekat tempat penyimpanan makanan dan minuman (asekkk). Menata minuman di atas baki, memastikan makanan sudah ada dan siap untuk disajikan kepada tamu, memastikan persediaan untuk reload (halah) maksudnya mengisi kembali panci-panci di meja prasmanan apabila habis. Akan sangat mudah bila resepsi yang dilaksanakan tuan rumah adalah sistemn prasmanan, tapi kalau sistem piring terbang, whoaaa butuh tenaga ekstra kawan. Tapi semuanya sangat asik untuk dilaksanakan, aku sungguh menikmatinya, tapi mungkin akan sangat menikmati lagi kalau aku yang duduk di pelaminannya ya hahaha.

Salam



Senin, 02 November 2015

Memanjakan Mata di Pantai Ngrenehan

Yuhuuu selamat siang, di mana matahari menyinari dengan terang dan panasnya. Nah gak salah lagi nih kayaknya kalau kita bahas seputar wisata air ya mumpung cuaca yang masih kering kerontang belum hujan juga. Yewww mari kita menuju ke pesisir Gunung Kidul Yogyakarta yang sudah terkenal akan keindahan pantainya. Yup Buddies mari aku perkenalkan dengan pantai Ngrenehan, salah satu Pantai yang terdapat di kawasan Pantai Gunung Sewu. Yang keren dari pantai ini adalah kita bisa melihat aktivitas nelayan dan disepanjang bibir pantai terdapat perahu-perahu mereka, tidak seperti di pantai Gunung Kidul yang lain.

Berjarak sekitar 60 km dari kota Yogyakarta, atau sekitar 30 km dari kota Wonosari, akses untuk menuju pantai ini sangatlah mudah. Dari kota Wonosari kita tinggal mengikuti petunjuk arah menuju Pantai Baron, nah nanti kita akan menemukan petunjuk arah menuju Pantai Ngrenehan, Ngobaran, Nguyahan. Sayangnya memang kalau ingin langsung ke pantai ini harus menggunakan kendaraan pribadi, tapi jangan khawatir, gak mungkin nyasar ko karena jalan yang dilewati adalah jalan utama. Harga tiketnya sendiri (pada waktu aku ke sana) 10 ribu rupiah, bisa dibeli di TPR, jadi selain menuju pantai Ngrenehan kita juga bisa mengunjungi pantai-pantai yang lain yang ada di kawasan Gunung Sewu.

Secara administratif pantai ini beralamat di Desa Kanigoro Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Begitu sampai di sana jangan kaget ya, kalian bakal disambut oleh langit biru cerah, pasir putih, air laut turquoise beserta ombaknya, deretan batu karang nan artistik, dan berjajar di sepanjang pantai perahu nelayan, ocean is calling. Bikin kita gak sabar untuk segera nyemplung dan bermain-main air bersama sahabat, pasir di pantai ini sangat lembut, kalau ombaknya waktu aku datang tidak terlalu besar jadi cocok banget buat main air. Selesai mandi-mandi, lidah kalian juga bakal dimanjakan kuliner di sekitar pantai yang disediakan oleh penjual-penjual di sana, tapi bayar lho ya.

 
Nah apabila masih ingin melanjutkan perjalanan menuju pantai yang lain kalian bisa menuju ke Pantai Ngobaran atau Pantai Nguyahan yang lokasinya dekat dengan Pantai Ngrenehan ini, di mana setiap pantainya menawarkan keindahan dan cerita tersendiri. Jangan lupa beli oleh-oleh seafood buat keluarga yang di rumah karena ada pelelangan ikan di sana, fresh from the ocean. Gimana? Seru banget kan? Buat yang udah gak sabar pengen ke sana silahkan langsung gas motor atau mobilnya. Buat yang pengen mandi-mandi dan takut hitam aku sarankan jangan lupa pakai sunblock, yang waterproof ya haha