Tampilkan postingan dengan label Permadi 25. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Permadi 25. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 November 2015

Karnaval Jaban Kampung Kreatif

Hellow, start the weekday yeah its Monday. Masih ingin membicarakan tentang kampungku ya, kampung tempat aku dilahirkan dan dibesarkan yang terkadang harus aku tinggalkan karena tugas negara. Ada yang unik dalam perayaan Tujuh Belas Agustus tahun ini di kampungku, yaitu diadakannya Karnaval yang bahkan langsung diliput oleh reporter TVRI Yogyakarta. Seingat aku, semenjak aku lahir sampai segede ini, ini baru pertama kalinya kampungku mengadakan Karnaval. Biasanya hanya diadakan lomba untuk berbagai kategori, kemudian disusul dengan malam tirakatan dan pentas seni, sekaligus pembagian hadiah lomba dan pemutaran film dokumenter.

Disambut antusias oleh berbagai kalangan atas ide Karnaval ini, seluruh masyarakat berlomba-lomba mengenakan busana adiguna masterpiece mereka sesuai dengan tema-tema yang sudah diusung masing-masing kelompok. Dimulai dari busana Gedrug yang dibawakan oleh pemuda-pemuda kampung Jaban, kemudian aneka busana dari berbagai daerah yang diperankan oleh bapak-bapak, ada juga yang berpakaian dengan peran mereka dalam pentas seni Sronthol. Nah untuk ibu-ibu mayoritas mereka mengenakan pakaian kebaya kuno, berjarit, menggendong tenggok, dan mengenakan caping. Anak-anak kecil juga tidak mau ketinggalan, mereka mengenakan kostum tari, kostum jathilan, membawa serta gamelannya.

Nah buat yang pemuda nih, khususnya aku juga ya, kan masih muda haha, kami mengusung tema pelajar dan profesi. Sesuai dengan karakter dan peran kami dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebagai pelajar dan juga pekerja. Beberapa mengenakan pakaian seragam sekolah lama, ada yang dibela-belain pinjem juga, ada yang berbusana dokter, suster, guru, fotografer. Dan aku cukup bahagia dengan diriku sendiri menjadi seorang accounting, ya walaupun pada akhirnya setelah aku muter-muter di depan kaca malah kelihatan kayak sales obat sih wkwkwkw. Kesalahan aku pada waktu itu adalah, aku mengenakan sepatu high heels sehingga kaki lecet semuanya.

 
Setelah selesei Karnaval mengelilingi kampung-kampung disekitar Jaban, kami berkumpul kembali di Lapangan SD Dayuharjo untuk melaksanakan Upacara Penurunan Bendera yang dipimpin oleh Bapak Camat Ngaglik. Dalam pidato Beliau itulah akhirnya kampung kami diresmikan menjadi Jaban Kampung Kreatif, whoaaa tepuk tangan donk. Itu adalah awal mulanya, nah mulai saat itulah kami, para pemuda dan pemudi ditantang untuk selalu memberikan ide-ide kreatif untuk kemajuan Jaban. Sangat menyenangkan bukan tinggal di desa?

Kamis, 05 November 2015

Asiknya Budaya "Nyinom" di Kampungku

Yowww yowww yowww, mari sejenak aku perkenalkan pada budaya yang masih turun temurun dilaksanakan di kampungku. Budaya tentang indahnya gotong-royong membantu orang yang sedang punya "gawe" dengan istilah "mantu" atau menikahkan anak mereka. Bila diantara teman-teman sekalian ada yang pernah datang ke resepsi pernikahan di kampung, pasti ada pemuda-pemudi yang wira-wiri membawa makanan, minuman, menata kursi dan lain sebagainya, nah mereka itulah yang disebut sinoman, dan kegiatannya disebut nyinom.

Dulu aku pikir nyinom itu berasal dari bahasa Jawa, dari kata sinoman yang artinya pemuda atau muda, tapi ternyata eh ternyata eh ternyata berdasarkan salah satu sumber dari mbah google nyinom itu bersalah dari bahasa Perancis yang artinya melayani (what?). Jadi kegiatan nyinom adalah pemuda-pemudi organisasi kampung yang membantu pelaksanaan hajatan dengan cara melayani tamu undangan yang datang, berupa mengantarkan makanan, minuman, maupun mempersiapkan tempat, mulai dari persiapan, hari H, sampai bersih-bersih setelah hari H (mantap!). Tidak hanya itu saja terkadang ada beberapa yang ikut menemani prosesi acara boyongan juga.

Nah nyinom dimulai dengan acara rapat terlebih dahulu, di sana akan dibahas kapan jadwal nyinom tiap anggota, kapan jadwal mengambil perkakas yang diperlukan, akan dijelaskan job description (halah) yang harus dilakukan dan siapa saja yang ditunjuk melaksanakan tugas tersebut semua dibahas di rapat. Akan ditunjuk (biasanya pemuda) beberapa orang untuk mengantarkan undangan pernikahan, disebut ulem-ulem atau uleman. Untuk ulem-ulem sendiri ada tata caranya, harus sopan dalam menyampaikan undangan, berpakaian rapi, pastikan yang bersangkutan yang menerima undangan.

Sebelum hajatan dimulai pemuda dan pemudi yang sudah berseragam rapi berkumpul di dekat tempat penyimpanan makanan dan minuman (asekkk). Menata minuman di atas baki, memastikan makanan sudah ada dan siap untuk disajikan kepada tamu, memastikan persediaan untuk reload (halah) maksudnya mengisi kembali panci-panci di meja prasmanan apabila habis. Akan sangat mudah bila resepsi yang dilaksanakan tuan rumah adalah sistemn prasmanan, tapi kalau sistem piring terbang, whoaaa butuh tenaga ekstra kawan. Tapi semuanya sangat asik untuk dilaksanakan, aku sungguh menikmatinya, tapi mungkin akan sangat menikmati lagi kalau aku yang duduk di pelaminannya ya hahaha.

Salam